BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Memilih media yang baik untuk pembelajaran bukanlah
pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Untuk kebutuhan suatu Proses Belajar
Mengajar (PBM), masalah pemilihan media perlu dikuasai oleh guru.
image%25255B3%25255D Pemilihan media pembelajaran yang baik dapat menghindari
adanya kegagalan dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan media.
Jika suatu media digunakan untuk memfasilitasi suatu proses belajar mengajar
maka media itu harus dipilih dan digunakan karena media ini memiliki potensi
untuk mempermudah belajar. Gerlach & Ely ( dalam Sihkabuden, 2005: 46 )
mengemukakan dalam penggunaannya, media tidak dapat langsung digunakan begitu
saja oleh pengajar karena diperlukan suatu prosedur dalam proses pemilihannya.
Oleh sebab itu, pemilihan dan penggunaan media harus benar-benar tepat agar
tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan mudah. Pada akhirnya, pemanfaatan
dan penggunaan media dapat menunjang efektifitas, efisiensi dan daya tarik
dalam pembelajaran
B. Rumusan Masalah
A. Dasar
Pertimbangan Memilih Media Pembelajaran
B. Kriteria pemilihan media
pembelajaran matematika
C. Prinsip-Prinsip Dalam
Pemilihan Media Pembelajaran Matematika
D.
Prosedur
Pemilihan Media Pembelajaran Matematika
C.
Tujuan
Dengan mempelajari Prosedur
Pemilihan Media Pembelajarah Matematika maka harapan semoga proses belajar
mengajar berdasarkan konsep penggunaan media pembelajaran matematika dapat kita
pahami dan aplikasikan di dalam keseharian kita sebagai pelajar maupun kita
sebagai pengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Pertimbangan memilih media pembelajaran
Pembelajaran
yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam
proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun
demikian, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa seorang guru memilih salah
satu media dalam kegiatannyadikelas atas dasar pertimbangan antara lainnya:
1. Bermaksud
mendemonstrasikannya seperti halnya pada kuliah tentang media.
2. Merasa sudah
akrab dengan media tersebut, misalnya seorang dosen yang sudah terbiasa menggunakan proyek
transparansi
3. Ingin
memberi gambaran atau penjelasan yang lebih konkrit
4. Merasa bahwa
media dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukannya, misalnya untuk menarik
minat atau gairah belajar siswa
Jadi dasar
pertimbangan untuk memilih suatu media sangatlah sederhana, yaitu dapat
memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan atau tidak. Mc. Connel
(Sadiman,Arif S,2003:82) mengatakan bila media itu sesuai pakailah,”If The Medium
Fits, Use It!”.
Menurut,
Henich dan kawan-kawan (Arsyad Azhar, 2010:67) megajukan model perencanaan
penggunaan media yang efektif yang dikenal dengan istilah ASSURE. (ASSURE
adalah singkatan dari Analyze learner
characteristics, State objective, Select, or modify media, Utilize, Require
learner response, and Evaluate).
Model ini menyarankan enam kegiatan utama dalam perencanaan pembelajaran
sebagai berikut:
1. Menganalisis karakteristik umum kelompok sasaran,
apakah mereka siswa sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, anggota organisasi
pemuda, perusahan, usia, jenis kelamin, latar belakang budaya dan sosial
ekonomi, serta menganalisis karakteristik khusus mereka yang meliputi antara
lain pengetahuan, keterampilan, dan sikap awal mereka.
2. Menyatakan atau merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu
perilaku atau kemampuan baru apa (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang
diharapkan siswa miliki dan kuasai setelah proses belajar- mengajar selesai.
Tujuan ini akan mempengaruhi pemilihan media dan urut-urutan penyajian dan
kegiatan belajar.
3. Memilih, memodifikasi, atau merancang dan
mengembangkan materi dan media yang tepat. Apabila materi dan media
pembelajaran yang telah tersedia akan dapat mencapai tujuan, materi dan media
itu sebaiknya digunakan untuk menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Di samping
itu perlu diperhatikan apakah materi dan media itu akan mampu membangkitkan
minat siswa, memiliki ketepatan informasi, memiliki kualitas yang baik,
memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi, telah terbukti
efektif-jika pernah diuji cobakan, dan menyiapaka petunjuk untuk berdiskusi
atau kegiatan follow-up. Apabila
materi dan media yang ada tidak cocok dengan tujuan atau tidak sesuai dengan
sasaran partasipasi, materi dan media itu dapat dimodifikasi. Jika tiak
memungkinkan untu memodifikasi yang telah tersedia, barulah memilih alternatif
ketiga yaitu merancangdan mengembangan materi dan media yang baru. Tentu saja
kegiatan ini jauh lebih mahal dari segi biaya, waktu, dan tenaga. Namun
demikian, kegiatan ini memungkinkan untuk menyiapkan materi dan media yang
tetap dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
4. Mengunakan materi dan media. Setelah memilih materi
dan media yang tepat, diperlukan persiapan bagaimana dan berapa banyak waktu
yang diperlukan untuk menggunakannya. Di samping praktik dan latihan
menggunakannya, persiapan ruangan juga diperlukan seperti tata letak tempat
duduk siswa, fasilitas yang diperlukan seperti meja peralatan, listrik, layar,
dan lain-lain harus dipersiapkan sebelum penyajian.
5. Meminta tanggapan dari siswa. Guru sebaiknya
mendorong siswa untuk memberikan respons dan umpan balik mengenai keefektivan
proses belajar mengajar. Respons siswa dapat bermacam-macam, seperti mengulaagi
fakta-fakta, mengemukakan ikhtisar atau rangkuman informasi/pelajaran, atau
menganalisa alternatif pemecahan masalah/ kasus. Dengan demikian, siswa akan
menampakkan partisipasi yang lebih besar.
6. Mengevaluasi proses belajar. Tujuan utama evaluasi
di sini adalah untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa mengenai tujuan
pembelajaran, keefektivan media, pendekatan, dan guru sendiri.
Pada
tingakat yang menyeluruh dan umum pemilihan media dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
1. Hambatan
pengembangan dan pembelajaran yang meliputi faktor-faktor dana, fasilitas dan
peralatan yang telah tersedia, waktu yang tersedia( waktu mengajar dan
pengembangan materi dan media), sumber-sumber yang tersedia (manusia dan
material);
2. Persyaratan
isi, tugas, dan jenis pembelajaran. Isi pelajaran beragam dari sisi tugas yang
ingin dilakukan siswa, misalnya penghafalan, penerapan keterampilan, pengertian
hubungan-hubungan, atau penalaran dan pemikiran tingkatan yang lebih tinggi.
Setiap kategori pembelajaran itu menuntut perilaku yang berbeda-beda, dan
dengan demikian akan memerlukanteknik dan media penyajian dan berbeda pula.
3. Hambatan
dari sisi siswa dengan mempertimbangkan kemampuan dan keterampilan awal,
seperti membaca, mengetik dan menggunakan komputer, dan karakteristik siswa
lainnya.
4. Pertimbangan
lainnya adalah tingkat kesenangan (preferensi lembaga, guru, dan pelajar) dan
keefektivan biaya.
5. Pemilihan
media sebaiknya mempertimbangkan pula:
a.Kemampuan mengkomodasikan penyajian stimulus yang
tepat (visual dan / atau audio)
b.Kemampuan mengkomodasikan respons siswa yang tepat
(tertulis, audio, dan / atau kegiatan fisik)
c.Kemampuan
mengkomodasikan umpan balik
d.Pemilihan
media utama dan media sekunder untuk penyajian informasi atau stimulus, dan
untuk latihan dan tes (sebaiknya latihan dan tes menggunakan media yang sama).
Misalnya untuk tujuan belajar yang melibatkan penghafalan.
6.
Media
sekunder harus mendapat perhatian karena pembelajaran yang berhasil menggunakan
media yang beragam. Dengan penggunaan media yang beragam, siswa memiliki
kesempatan untuk menghubungkan dan berinteraksi dengan kebutuhan belajar mereka
secara perorangan.
B. Kriteria pemilihan media pembelajaran matematika
Media
pembelajaran yang beraneka ragam
jenisnya tentunya tidak akan digunakan seluruhnya secara
serentak dalam kegiatan pembelajaran, namun hanya beberapa saja. Untuk itu
perlu di lakukan pemilihan media tersebut. Agar pemilihan media pembelajaran
tersebut tepat, maka perlu dipertimbangkan faktor/kriteria-kriteria dan
langkah-langkah pemilihan media. Kriteria yang perlu dipertimbangkan guru atau
tenaga pendidik dalam memilih media
pembelajaran menurut Nana Sudjana (Sudjana,Nana. 1990:4-5) adalah sebagai berikut:
1. Ketepatannya
dengan tujuan pengajaran. Artinya media pengajaran dipilih atas daasr
tujuan-tujuan instruksional yang ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman
apliksi, analisis, sentesis lelah memungkinkan digunakannya media pengajaran
2. Dukungan
terhadap isi bahan pengajaran; artinya bahan pengajaran yang bersifat fakta,
prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih
mudah dipahami siswa.
3. Kemudahan
memperoleh media; artinya media diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya
mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umunya dapat dibuat
guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya
4. Keterampilan
guru dalam menggunakannya; apa pun jenis media yang diperlukan syarat utama
adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat
yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaan oleh guru
pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dan lingkungannya. Adanya OHP,
proyektor film, komputer dan alat-alat canggih lainnya, tidak mempunyai arti
apa-apa bila guru tidak dapat menggunakannya dalam pengajaranuntuk
mempertingggi kualitas pengajaran.
5. Tersedia
waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa
selama pengajaran berlangsung.
6. Sesuai
dengan taraf berfikir siswa; memenuhi media untuk pendidikan dan terkandung didalamnya dapat dipahami oleh
para siswa. Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau propori dalam
bentuk persen bagi siswa SD ke;as-kelas rendah tidak ada manfaatnya. Mungkin
lebih tepat dalam bentuk gambar dan poster. Demikian juga diagram yang
menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi
siswa yang telah memiliki kadar berfikir tinggi.
Sepadan dengan
hal itu Nyoman Sudana Degeng (1993; 26-27) menyatakan bahwa ada sejumlah faktor
yang perlu dipertimbangkan guru/pendidik dalam memilih media pembelajaran,
yaitu: 1) tujuan instruksional; 2) keefektifan; 3) siswa; 4) ketersediaan; 5)
biaya pengadaan; 6) kualitas teknis.
Selanjutnya
menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (1992/1993: 67-68) kriteria yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu: 1) Tujuan; 2) Karakteristik siswa;
3) Alokasi waktu; 4) Ketersediaan; 5) Efektivitas; 6) Kompatibilitas; dan 7)
Biaya.
Selain itu,
menurut Dick dan Carey (Sudiman,Arief.s. 2003:83) menyebutkan bahwa di samping
kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, setidaknya masih ada empat faktor
lagi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media, yaitu:
a) Ketersediaan
sumber tempat. Artinya bila media yang bersangkutan tidak terdapat pada
sumber-sumber yang ada, maka harus dibeli atau dibuat sendiri.
b) Apakah untuk
membeli atau memproduksi sendiri tersebut ada dana, tenaga dan fasilitasnya
c) Faktor yang
menyangkut keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media yang bersangkutan untuk
waktu yang lama. Artimya bisa digunakan dimanapun dengan peralatan yang ada
disekitarnya dan kapan pun serta mudah
dijinjing dan dipindahkan.
d) Efektivitas
biayanya dalam jangka waktu yang panjang.
Berkaitan
dengan pemilihan media ini, Azhar Arsyad (1997: 76-77) menyatakan bahwa
kriteria memilih media yaitu: 1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai; 2)
tepat untuk mendukung isi pelajaran; 3) praktis, luwes, dan tahan; 4) guru
terampil menggunakannya; 5) pengelompokan sasaran; dan 6) mutu teknis.
Dari
beberapa pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa pada prinsipnya
pendapat-pendapat tersebut memiliki kesamaan dan saling melengkapi. Selanjutnya
menurut hemat penulis yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu
tujuan pembelajaran, keefektifan, peserta didik, ketersediaan, kualitas teknis,
biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya serta alokasi
waktu yang tersedia. Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hal ini
akan diuraikan sebagai berikut:
1. Tujuan pembelajaran. Media hendaknya dipilih yang dapat menunjang
pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya, mungkin
ada sejumlah alternatif yang dianggap
cocok untuk tujuan-tujuan itu. Sedapat mungkin pilihlah yang paling cocok.
Kecocokan banyak ditentukan oleh kesesuaian karakteristik tujuan yang akan
dicapai dengan karakteristik media yang akan digunakan.
2. Keefektifan. Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih,
mana yang dianggap paling efektif untuk
mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
3. Peserta
didik. Ada
beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ketika kita memilih media pembelajaran
berkait dengan peserta didik, seperti: apakah media yang dipilih sudah sesuai
dengan karakteristik peserta didik, baik itu kemampuan/taraf berpikirnya,
pengalamannya, menarik tidaknya media pembelajaran bagi peserta didik?
Digunakan untuk peserta didik kelas dan
jenjang pendidikan yang mana? Apakah
untuk belajar secara individual, kelompok kecil, atau kelompok besar/kelas? Berapa jumlah peserta didiknya? Di
mana lokasinya? Bagaimana gaya belajarnya? Untuk kegiatan tatap muka atau jarak
jauh? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
perlu dipertimbangkan ketika memilih dan menggunakan media dalam
kegiatan pembelajaran.
4. Ketersediaan. Apakah media yang diperlukan itu sudah tersedia?
Kalu belum, apakah media itu dapat diperoleh dengan mudah? Untuk tersedianya
media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat sendiri, membuat
bersama-sama dengan peserta didik, meminjam menyewa, membeli dan mungkin
bantuan.
5. Kualitas teknis. Apakah
media media yang dipilih itu kualitas baik? Apakah memenuhi syarat sebagai
media pendidikan? Bagaimana keadaan daya tahan media yang dipilih itu?
6. Biaya pengadaan. Bila
memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah tersedia biaya untuk itu? Apakah
yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaannya? Adakah media
lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki keefektifan setara?
7. Fleksibilitas (lentur), dan kenyamanan media. Dalam memilih media harus dipertimbangkan kelenturan dalam arti dapat
digunakan dalam berbagai situasi dan pada saat digunakan tidak berbahaya.
8. Kemampuan orang yang menggunakannya. Betapapun tingginya nilai kegunaan media, tidak akan memberi manfaat yang
banyak bagi orang yang tidak mampu menggunakannya.
9. Alokasi waktu, waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran
akan berpengaruh terhadap penggunaan media pembelajaran. Untuk itu ketika
memilih media pembelajaran kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti;
apakah dengan waktu yang tersedia cukup untuk pengadaan media, apakah waktu
yang tersedia juga cukup untuk penggunaannya.
Dengan
kriteria pemilihan media di atas, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana
yang dianggap sesuai untuk membantu mempemudah tugas-tugasnya sebagai pengajar.
Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan ssehingga mempersulit
tugas guru, tetapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan
bahan pengajaran. Oleh karena itu media bukan keharusan tetapi sebagai
pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas belajar dan
mengajar.
C.
Prinsip-prinsip
dalam Pemilihan Media Pembelajaran Matematika
Dari segi teori belajar, berbagai
kondisi dan prinsip-prinsip psikologis yang perlu mendapat pertimbangan dalam
pemilihan dan penggunaan media adalah sebagai berikut:
1. Motivasi.
Harus ada kebutuhan, minat atau keinginan untuk belajar dari pihak siswa
sebelum meminta perhatiannya untuk mengerjakan tugas dan latihan. Lagi pula
pengalaman yang akan dialami siswa harus relevan dengan dan bermakna baginya.
Oleh karena itu, perlu untuk melahirkan minat itu dengan perlakuan yang
memotivasi dari informasi yang terkandung dalam media pembelajaran tersebut.
2. Perbedaan
individual. Siswa belajar dengan cara dan tingkat kecepatan yang berbeda.
Faktor-faktor seperti, kemampuan intelegensia, tingkat pendidikan, kepribadian,
dan gaya belajar mempengaruhi kemampuan dan kesiapan siswa untuk belajar.
Tingkat kecepatan penyajian informasi melalui media harus berdasarkan tingkat
pemahaman.
3. Tujua
pembelajaran. Jika siswa diberitahukan apa yang diharapkan mereka pelajari
melalui media pembelajaran itu, kesempatan untuk berhasil dalam pembelajaran
semakin besar. Di samping itu pernyataan mengenai tujuan belajar yang ingin
dicapai dapat menolong perancang dan penulis materi pelajaran. Tujuan ini akan
menentukan bagian isi yang mana yang harus mendapatkan perhatian pokok dalam media
pembelajaran.
4. Organisasi
isi. Pembelajaran akan lebih mudah jika isi dan prosedur atau keterampilan
fisik yang akan dipelajari diatur dan diorganisasikan ke dalam urutan-urutan
yang bermakna. Siswa akan memahami dan mengingat lebih lama materi pelajaran
yang secara logis disusun dan diurut-urutkan secara teratur. Di samping itu,
tingkatan materi yang akan disajikan ditetapkan berdasarkan kompleksitas dan
tingkat kesulitan itu materi. Dengan cara seperti ini dalam pengembangan dan
penggunaan media, siswa dapat dibantu untuk secara lebih baik mensintesis dan
memadukan pengetahuan yang akan dipelajari.
5. Persiapan
sebelum belajar. Siswa sebaiknya telah menguasai secara baik pelajaran dasar
atau memiliki pengalaman yang diperlukan secara memadai yang mungkin merupakan
persyaratan untuk penggunaan media dengan sukses. Dengan kata lain, ketika
merancang materi pelajaran, perhatian harus ditujukan kepada sifat dan tingkat
persiapan siswa.
6. Emosi.
Pembelajaran yang melibat emosi dan perasaan pribadi serta kecakapan amat
berpengaruh dan bertahan. Media pembelajaran adalah cara yang sangat baik untuk
menghasilkan respons emosiaonal seperti takut, cemas, empati, cinta kasih, dan
kesenangan. Oleh karena itu, perhatian khusus harus ditujukan kepada elemen-elemen
rancangan media jika hasil yang diinginkan berkaitan dengan pengetahuan dan
sikap.
7. Partsipasi.
Agar pembelajaran berlangsug dengan baik seorang siswa harus menginternalisasi
informasi, tridak sekedar diberitahu kepadanya. Oleh sebab itu, belajar
memerlukan kegiatan. Partisipasi aktif oleh siswa jauh lebih baik daripada
mendengarkan dan menonton secara pasif. Partisipasi artinya kegiatan mental
atau fisik yang terjadi di sela-sela penyajian materi pelajaran. Dengan
partisipasi kesempatan lebih besar terbuka bagi siswa untuk memahami dan
mengingat materi pelajaran itu.
8. Umpan balik.
Hasil belajar dapat meningkat apabial belajarnya. Pengetahuan tentang hasil
belajar, pekerjaan yang baik, atau kebutuhan untuk perbaikan pada sisi-sisi
tertentu akan memberikan sumbangan terhadap motivasi belajar yang
berkelanjutan.
9. Penguatan (reinforcement). Apabila siswa berhasil
belajarnya, ia didorong untuk terus belajar. Pembelajaran yang didorong oleh
keberhasilan amat bermanfaat, dapat membangun kepercayaan diri, dan secara
positif mempengaruhi perilaku di masa-masa yang akan datang.
10. Latiahan dan
pengulangan. Sesuatau hal baru jarang sekali dapat dipelajari secara efektif
hanya dengan sekali jala. Agar sesuatu pengetahuan atau keterampilan dapat
menjadi bagian kompetensi atau kecakapan intelektual seseorang, haruslah
pengetahuan atau keterampilan itu sering diulangi da dilatihdalam berbagai
konteks. Dengan demikian ia dapat tinggal dalam ingatan jangka panjang.
11. Penerapan.
Hasil belajar yang diinginkan adalah meningkatkan kemampuan seseorang untuk
menerapkan atau mentransfer hasil belajar pada masalah atau situasi baru. Tanpa
dapat melakukan ini, pemahaman sempurna belum dapat dikatakan dikuasai. Siswa
mesti telah pernah dibantu untuk mengenali atau menemukan generalisasi (konsep,
prinsip, atau kaidah) yang berkaitan dengan tugas. Kemudian siswa diberi
kesempatan untuk bernalar dan memutuskan dengan menerapkan generalisasi atau
prosedur terhadap berbagai masalah atau tugas baru.
D. Prosedur Pemilihan Media Pembelajaran Matematika
Adapun tujuan pengelompokan maupun
pemilihan media memang sangat berlainan. Karena itu juga tidak perlu heran bila
kemudian timbul berbagai jenis, cara,
maupun prosedur pemilihan media. Namun demikian bila terlihat dari bentuknya
cara-cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga model yaitu:
1.
Model,flowChart,
(Eliminasi).
Menggunakan
sistem pengguguran (batal) dalam pengambilan keputusan.
2.
Model
Matriks.
Menangguhkan
pengambilan keputusan, untuk memilih ini cocok kalau menggunakan media
rancangan.
3.
Model
Checeklist.
Menangguhkan
keputusan untuk memilih sampai seluruh kriteria dipertimbangkan, hal ini cocok
untuk media jadi dan media rancangan.
Meskipun
belum ada penelitian tentang hal ini, namun nampaknya model checeklist lebih
sesuai untuk membakukan prosedur pemilihan media. Jadi, model matriks lebih
serasi untuk digunakan dalam pemilihan media rancangan, seddangkan model
flowchart dapat digunakan untuk menggambarkan proses pemilihan mendia jadi
maupun media rancangan.
Pada
flowchart di atas, sebagai masukan adalah permintaan akan kebutuhan film
tertentu (misalnya dari fakultas). Setelah melewati berbagai tahap pengguguran,
akhirnya sampai pada suatu kesimpulan untuk membeli atau tidak. Ingat bahwa pada
tahap evaluasi, semua persyaratan atau kriteria telah dituangkan dalam format
evaluasi (kuesioner, opinioner, checklist) yang biasanya telah dibakukan.
Untuk
maksud yang lain,Gagne dan Reiser (Sadiman,Arif S,2003:85) juga menggunakan
flowchart dalam pendekatannya. Satu
daripadanya mereka kembangkan untuk tujuan pemilihan media menurut modus
belajar mandiri, lainnya menurut modus belajar dengan siaran.
Anderson
(Sadiman,Arif S,2003:86) melihat pemilihan media sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari pengembangan intruksional. Untuk keperluan itu dia membagi
media dalam sepuluh kelompok yaitu:
a)
Media audio
b)
Media cetak
c)
Media cetak
bersuara
d)
Media
proyeksi (visual)
e)
Media
proyeksi dengan suara
f)
Media visual
bergerak
g)
Media audio
visual gerak
h)
Objek
i)
Sumber
manusia dan lingkungan
j)
Media
komputer
Prosedur pemilihannya sendiri dimulai
dengan pertanyaan-pertanyaan apakah pesan yang akan disamping bersifat
informassi/hiburan atau pesan intruksional.
Prosedur lain untuk pemilihan media
dibuat dalam bentuk matriks seperti dikembangkan oleh Wilbur Schramm (1997)
yang ingin melihat kesesuaian media dengan tingkat kesulitan pengendaliannya
oleh pemakai. Model ini kemudian ditambah dan diadaptasikan oleh Yusufhadi
Miarso menjadi seperti yang tampak
Contoh lain yang juga mempergunaka
pendekatan matriks adalah model yang dikembangkan oleh Allen.
Allen
melihat bahwa media tertenu mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu terhadap
yang lain untuk tujuan belajar tertentu dan sebaliknya.
Di samping
contoh-contoh tersebut, sebagaimana telah diutarakan sebelumnya, prosedur
pemiliahn media ada yang dituangkan dalam bentuk checklist.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar