BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika adalah suatu bidang ilmu yang melatih
penalaran supaya berpikir logis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah dan
mengambil keputusan. Mempelajarinya memerlukan cara tersendiri karena
matematika bersifat khas, yaitu abstrak, konsisten, hierarki, dan berpikir
deduktif. Oleh karena itu, pengajaran matematika di Sekolah Dasar hendaknya
diarahkan agar siswa mampu secara sendiri menyelesaikan masalah-masalah lain
yang diselesaikan dengan bantuan teori belajar matematika.Begitu pentingnya
pengetahuan teori belajar matematika dalam sistem penyampaian materi di kelas,
sehingga setiap metode pengajaran harus selalu disesuaikan dengan materi
belajar.
Dengan memahami kekhasan matematika
dan karakteristik siswa, dapat diupayakan cara-cara yang sesuai agar tujuan
pembelajaran, baik yang bersifat kognitif, psikomotorik, dan afektif dapat
tercapai dengan optimal.
B. Rumusan
Masalah
B.1. Latar belakang konsep belajar behaviorisme, kognitivisme,
konstruktivisme
B.2.Tokoh-tokoh pengikut konsep belajar Behaviorisme, Kognitivisme,
Konstruktivisme
B.3.Penerapan konsep belajar Behaviorisme,
Kognitivisme, Konstruktivisme dalm pembelajaran
matematika
C. Tujuan
Dengan mempelajari konsep belajar Behaviorisme, Kognitivisme,
Konstruktivisme,
maka harapan semoga proses belajar mengajar berdasarkan konsep belajar tersebut
dapat kita pahami dan aplikasikan di dalam keseharian kita sebagai pelajar
maupun kita sebagai pengajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Latar belakang teori belajar behaviorisme, kognitivisme,
konstruktivisme
a.
Teori Behaviorisme
Behaviorisme
merupakan suatu pandangan teoritis yang beranggapan bahwa pokok persoalan
psikologi adalah pada tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi – konsepsi
mengenai kesadaran atau mentalitas. Sedangkan Teori Operant Conditioning (Teori
Kekuatan Operan) yang ditemukan oleh BF Skinner merupakan pengembangan dari
Teori Behaviorisme dan lebih dikenal dengan istilah teori Behaviorisme Deskriptif
( Chaplin JP, 2005 ).
Ivan Petrovitch Pavlov merupakan tokoh aliran
behaviorisme klasik ( Classical Conditioning ). Dia dilahirkan di kota
Ryazan, yaitu sebuah desa kecil di Rusia pada September 1849, satu dekade
sebelum dipublikasikannya teori Darwin “ Darwin’s On The Origin of Species “
( Chance, 2002 ).
Pavlov sebenarnya seorang ahli fisiologi sejak tahun 1980
dan pada tahun 1904 ia mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang fisiologi,
Penelitian yang dilakukannya adalah mengenai kelenjar ludah dengan menggunakan
anjing sebagai subyek. Dalam hal ini anjing di operasi kelenjar ludahnya
sedemikian sehingga memungkinkan peneliti untuk mengukur air liur yang keluar
sebagai respon ( reaksi ) apabila ada perangsang makanan ke mulutnya (
kemampuan daya deskriminasi anjing ). Suatu stimulus yang memunculkan respon
tertentu dioperasikan berpasangan dengan stimulus lain pada saat yang sama
untuk memunculkan respon refleks. Stimulus lain itu dikondisikan agar
memunculkan respon refleks yang dimaksud. Kedalam mulut anjing diberikan daging ( stimulus asli ) dan
secara refleks anjing akan merespon dengan mengeluarkan air liur ( respon asli
), dan jika dengan pemberian daging dibunyikan bel ( stimulus kondisi ), yang
terjadi adalah stimulus asli bersama – sama dengan stimulus kondisi direspon.
Sesudah percobaan di ulang – ulang, bunyi bel tanpa pemberian daging direspon
dengan mengeluarkan air liur, Dalam hal ini terjadi proses conditioning antara
stimulus kondisi dengan respon asli yang menjadi respon kondisi ( Cown, 1996 ).
Makanan ( daging ) disini berperan memperkuat ( reinforcing
) keluarnya air liur ketika bel berbunyi disebut penguat positif ( positive
reinforcer ), yaitu stimulus atau penguat yang kehadirannya meningkatkan
peluang terjadinya respon yang dikehendaki. Jika dalam eksperimen pemberian
makanan dihentikan, selama beberapa waktu anjing tetap mengeluarkan air liur
setiap mendengar bel tetapi hubungan itu semakin lemah sampai akhirnya bel
tidak lagi mengeluarkan air liur. Hal ini dikatakan proses pemadaman ( extinction
), yang menunjukkan penguatan berkelanjutan. Tanpa reinforcement tingkah
laku respon yang bukan otomatis ( refleks ) akan semakin hilang. Behaviorisme
klasik ini menghasilkan tipe tingkah laku responden,yang oleh Skinner dianggap
dianggap kurang penting karena kurang menggambarkan fungsi integral manusia
dalam lingkungannya. Dalam kehidupan yang sebenarnya, umumnya reinforcement
tidak segera dikenali dan akan timbul sesudah tingkah laku terjadi. ( Elliot,
1999 ).
Dari eksperimen
yang dilakukan tersebut Pavlov menyimpulkan bahwa :
- Refleks bersyarat ( conditioned re flex / CR ) yang telah terbentuk itu dapat hilang karena perangsang yang mengganggu ( hilang untuk sementara )
- Refleks bersyarat ( conditioned reflex / CR ) dapat dihilangkan dengan proses pensyaratan kembali ( reconditioning, berconditionering ), jalannya melakukan pensyaratan kembali ini sama dengan ketika menimbulkan refleks bersyarat, hanya saja disini tidak diberi reinforcement.
Namun dalam
eksperimennya Pavlov masih mengalami kelemahan karena adanya keterbatasan daya
deskriminasi dari anjing yang di cobanya itu maksimum hanya mampu mengingat
sampai pada tiga macam perangsang ( Suryabrata, 2004 ).
b.
konsep kognitivisme
Teori belajar kognitif berasal dari
pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang Jerman yang kemudian beremigrasi ke
Amerika Serikat. Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa
belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi
kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu yang sedang belajar
dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk
dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip
tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh. Agar
siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara
aktif.
Teori kognitivisme ini memiliki
perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui
upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Teori ini menekankan
pada bagaimana informasi diproses.
Karakteristik :
Karakteristik :
a) Belajar adalah proses mental
bukan behavioral
b) Siswa aktif sebagai penyadur
c) Siswa belajar secara individu
dengan pola deduktif dan induktif
d) Instrinsik motivation, sehingga
tidak perlu stimulus
e) Siswa sebagai pelaku untuk
menuntun penemuan
f) Guru memfasilitasi terjadinya
proses insight.
c.
Konsep konstruktivisme
Menurut
cara pandang teori konstruksivisme belajar adalah proses untuk membanguin
pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya siswa akan cepat
memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangu atas dasar realitas yang ada
di dalam masyarakat. Evaluasi pembelajaran. Dalam treori kontruktivisme,
evaluasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam memahami
materi dari guru. Evaluasi menjadi saran untuk mengetahui kekurangan dan
kelebihan proses pembelajaran.
Konstruktivisme sebagai deskripsi
kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan pendekatan paedagogi yang
mempromosikan learning by doing. Teori ini memberikan keaktifan terhadap
manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi,
dan hal lain yang diperlakukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Menurut asalnya, teori
konstruktivime bukanlah teori pendidikan. Teori ini berasal dari disiplin
filsafat, khususnya filsafat ilmu. Pada tataran filsafat, teori ini membahas
mengenai bagaimana proses terbentuknya pengetahuan manusia. Menurut teori ini
pembentukan pengetahuan terjadi sebagai hasil konstruksi manusia atas realitas
yang dihadapinya. Dalam perkembangan kemudian, teori ini mendapat pengaruh dari
disiplin psikologi terutama psikologi kognitif Piaget yang berhubungan dengan
mekanisme psikologis yang mendorong terbentuknya pengetahuan. Menurut kaum
konstruktivis, belajar merupakan proses aktif siswa mengkostruksi pengetahuan.
Proses tersebut dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut:
- Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
- Konstruksi makna merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus seumur hidup.
- Belajar bukan kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih berorientasi pada pengembangan berpikir dan pemikiran dengan cara membentuk pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil dari perkembangan melainkan perkembangan itu sendiri. Suatu perkembangan yang menuntun penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
- Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi disekuilibrium merupakan situasi yang baik untuk belajar
- Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungan siswa.
- Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang sudah diketahuinya.
Bagi kaum konstruktivis, belajar
adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanis
untuk mengumpulkan fakta. Dalam konteks yang demikian, belajar yang bermakna
terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik pengertian dan selalu terjadi
pembaharuan terhadap pengertian yang tidak lengkap.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut
dapat ditarik sebuah inferensi bahwa menurut teori konstruktivisme belajar
adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengabstraksi pengalaman
sebagai hasil interaksi antara siswa dengan realitas baik realitas pribadi,
alam, maupun realitas sosial. Proses konstruksi pengetahuan berlangsung secara
pribadi maupun sosial. Proses ini adalah proses yang aktif dan dinamis.
Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan awal, kemampuan kognitif dan
lingkungan sangat berpengaruh dalam proses konstruksi makna.Argumentasi para
konstruktivis memperlihatkan bahwa sebenarnya teori belajar konstrukvisme telah
banyak mendapat pengaruh dari psikologi kognitif, sehingga dalam batas tertentu
aliran ini dapat disebut juga neokognitif.
Walaupun mendapat pengaruh psikologi
kognitif, namun harus diakui bahwa stressing point teori ini bukan terletak
pada berberapa konsep psikologi kognitif yang diadopsinya (pengalaman,
asimilasi, dan internalisasi).melainkan pada konstuksi pengetahuan. Konstruksi
pengetahuan yang dimaksudkan dalam pandangan konstruktivisme yaitu pemaknaan
realitas yang dilakukan setiap orang ketika berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam konteks demikian, konstruksi atau pemaknaan terhadap realitas adalah
berlajar itu sendiri. Dengan asumsi seperti ini, sebetulnya substansi
konstrukvisme terletak pada pengakuan akan hekekat manusia sebagai homo creator
yang dapat mengkonstruksi realitasnya sendiri.
2.2 Tokoh-tokoh pengikut konsep
belajar Behaviorisme,
Kognitivisme, Konstruktivisme
a. Tokoh-Tokoh
yang Mendukung KonsepBehaviorisme
1). Teori Belajar
Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah
proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang
merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal
lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi
yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran,
perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan
belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit
yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, yakni (1) hukum efek; (2)
hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini
menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
2). Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendefinisikan belajar
sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon
yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun
dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama
proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak
perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang
behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu
lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman
empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
3). Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel
hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun
dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti
halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk
menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan
kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction)
adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia,
sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan
dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat
berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi
juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
4). Teori Belajar Menurut Edwin
Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama
adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu
gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang
sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus
dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena
gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada
respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil
belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang
baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam
kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar
hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga
percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses
belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat
mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Siswa harus dibimbing melakukan apa
yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas
yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).
5). Tori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang
belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan
konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner
hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya,
yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang
dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima
seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan
saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon
yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku
(Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara
benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta
memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin
timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengmukakan bahwa dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah
laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan
perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
6). Ivan Petrovich Pavlov
(1849-1936)
Teori pelaziman klasik
adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan
stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu.
Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan
respons terkondisikan.
Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing.
Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi
bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah
bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses
penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel
masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo
ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami
dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari
luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi
karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam
belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan
teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan
penentuan pribadi dihiraukan.
7). Albert Bandura (1925-sekarang)
Ternyata tidak semua perilaku dapat
dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan
peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Kaum behaviorisme
tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya,
dipasangkan dengan lambak atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).
Teori belajar Bandura adalah teori
belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan
pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain.
Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku
timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh
lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian,
mengingat, produksi motorik, motivasi.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi.
Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada
peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka.
Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.
b.
Tokoh – Tokoh yang mendukung konsep
Kognitivisme
1). Jean
Piaget, teorinya disebut "Cognitive Developmental"
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir
sebagai aktivitas gradual dan fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas
gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli
psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan
pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan
mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak
kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau
kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara
kualitatif.Menurut Suhaidi Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif
anak menjadi empat tahap:
Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah
kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan
kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah
kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai
digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan
berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia
7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan
aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada
karakteristik perseptual pasif. 4. Tahap formal – operational, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok
tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis
dengan menggunakan pola pikir "kemungkinan". Dalam pandangan Piaget,
proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui
dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan
baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki
seseorang tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang telah
dimiliki seseorang harus direkonstruksi/di kode ulang disesuaikan dengan
informasi yang baru diterima.Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga
menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus
mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya.
Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan
akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur
dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium
menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
2). Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner melihat perkembangan kognitif
manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan kognitif
seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang
biasanya digunakan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu
sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran
harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan
perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan
yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum
spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah
Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif
mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami
konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan
suatu kesimpulan. (discovery learning).
3). Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel
Yang memandang bahwa Proses belajar terjadi jika siswa mampu
mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru yang
dimana Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
1. Memperhatikan stimulus yang diberikan
2.
Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah
dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar
dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan
dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan
mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah
konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan
dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu :
Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari.
Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan
yang akan dipelajari. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara
lebih mudah.
d.
Tokoh-tokoh
yang mendukung konsep belajar Konstruktivisme
1).
Driver dan Bell
Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995:
222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang
sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar
mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan
bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4)
pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan
situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat
pembelajaran, materi, dan sumber.
2).
Piaget
Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget
dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan
kognitif atau biasa jugaa disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988:
133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap
beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia
akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2)
tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental
(pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan
kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak
melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration),
proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman
(asimilasi) dan struktur kognitif
yang
timbul (akomodasi).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal
sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan
tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi
adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah
menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga
informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang
akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru
yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada
sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
3). Vigotsky
Berbeda
dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam
belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi,
1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis
Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya
pada lingkungan sosial dalam belajar.
4). Tasker
Tasker
(1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme
sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara
gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara
gagasan dengan informasi baru yang diterima.
5). Wheatley
Wheatley (1991: 12) mendukung
pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan
teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh
secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi
kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata
yang dimiliki anak.
6). Hanbury
Selain penekanan dan tahap-tahap
tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury
(1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran,
yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide
yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa
mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan
untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan
temannya
2.3 penerapan konsep belajar Behaviorisme, Kognitivisme,
Konstruktivisme dalm pembelajaran matematika
a. penerapan konsep belajar Behaviorisme
Dikenal dua teori belajar, yaitu teori
belajar tingkah laku dan teori belajar kognitif. Definisi praktis dari teori
belajar tingkah laku (behaviorism) dinyatakan oleh Orton (1987:38)
sebagai suatu keyakinan (belief) bahwa proses pembelajaran terjadi
melalui hubungan antara stimulus (rangsangan) dan tanggapan (response).
Salah satu tokoh teori belajar tingkah laku adalah E.L. Thorndike yang oleh
Resnick dan Ford (1984:11) disebut sebagai the “founding father” of the
psychology of mathematics instruction. Salah satu tokoh teori belajar
tingkah laku lainnya adalah Robert M. Gagne yang lebih dikenal dengan sebutan
Gagne. Gagne dikenal luas karena teori-teorinya yang berkait dengan objek-objek
langsung dan tidak langsung matematika, serta hirarki belajar. Gagne sendiri dinyatakan
oleh Orton (1987:38) sebagai neobehaviourist.
Para penganut psikologi
tingkah laku (behaviorism), misalnya Thorndike yang mengarang buku ‘The
Psychology of Arithmetics’ (Resnick dan Ford, 1984:12) memandang belajar
sebagai hasil dari pembentukan hubungan antara rangsangan dari luar (stimulus)
seperti ‘2 + 2’ dan balasan dari siswa (response) seperti ‘4’ yang dapat
diamati. Mereka berpendapat bahwa semakin sering hubungan (bond) antara
rangsangan dan balasan terjadi, maka akan semakin kuatlah hubungan keduanya (law
of exercise). Mereka, para penganut teori belajar tingkah laku ini
berpendapat bahwa batu saja akan berlubang jika ditetesi air terus menerus. Di
samping itu, menurut Resnick dan Ford (1984:12), Thorndike menyatakan kuat
tidaknya hubungan ditentukan oleh kepuasan maupun ketidakpuasan yang
menyertainya (law of effect). Itulah sebabnya, dua kata kunci menurut
para penganutnya selama proses pembelajaran adalah ‘latihan’ serta
‘ganjaran/penguatan’ dan hukuman. Teori ini menitikberatkan pada perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengulangan.
Pada masa kini, teori
belajar yang dikemukakan penganut psikologi tingkah laku ini dapat digunakan
dalam beberapa hal untuk mendukung pengembangan kemampuan siswa yang
berhubungan dengan pencapaian hasil belajar (pengetahuan) matematika seperti
fakta, konsep, prinsip, dan skill atau keterampilan. Keempat objek
langsung matematika tersebut digagas oleh Gagne. Gagne sendiri dinyatakan oleh
Orton(1987:38) sebagai neobehaviourist.
b. Penerapan Konsep Belajar Kognitivisme
Teori belajar Ausubel
menitikberatkan pada bagaimana seseorang
memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat dua jenis belajar yaitu belajar hafalan
(rote-learning) dan belajar bermakna (meaningful-learning).
aa)
Belajar Hapalan
Materi dalam pelajaran matematika
bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan satu kesatuan,
sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan pengetahuan yang lain.
Seorang anak tidak akan mengerti penjumlahan dua bilangan jika ia tidak tahu
arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1” menunjuk pada banyaknya
sesuatu yang tunggal seperti banyaknya
kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang berpasangan seperti
banyaknya mata, telinga, kaki, … dan seterusnya. Sering terjadi, anak kecil
salah menghitung sesuatu. Tangannya masih
ada di batu ke-4 namun ia sudah mengucapkan “lima” atau malah “enam”.
Kesalahan kecil seperti ini akan
berakibat pada kesalahan menjumlah dua bilangan. Hal yang lebih parah akan
terjadi jika ia masih sering meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai
sepuluh.
bb)
Belajar Bermakna
Agar proses mengingat bilangan kedua
dapat bermakna, maka proses mengingat bilangan kedua (yang baru) harus
dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki, yaitu tentang 17-08-1945 akan
tetapi dengan membalik urutan penulisannya menjadi 5491-80-71.Untuk bilangan
pertama, yaitu 89.107.145. Bilangan ini hanya akan bermakna jika bilangan itu
dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam pikiran kita.
Contohnya jika bilangan itu berkait dengan nomor telepon atau nomor lain yang
dapat kita kaitkan. Tugas guru adalah
membantu memfasilitasi siswa sehingga bilangan pertama tersebut dapat dikaitkan
dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jika seorang siswa tidak dapat
mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki
siswa, maka proses pembelajarannya disebut dengan belajar yang tidak bermakna
(rote learning).
Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful
learning) yang telah digagas David P Ausubel.
Di samping itu, seorang guru dituntut untuk mengecek, mengingatkan
kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai
membahas topik baru, sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait
dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna
tersebut.
Teori Bruner tentang tiga tahap
proses belajar berkait dengan tiga tahap yang harus dilalui siswa agar proses
pembelajarannya menjadi optimal, sehingga akan terjadi internalisasi pada diri
siswa, yaitu suatu keadaan dimana pengalaman yang baru dapat menyatu ke dalam
struktur kognitif mereka. Ketiga tahap pada proses belajar tersebut adalah:
1.) Tahap Enaktif.
Pada tahap ini, pembelajaran yang
dilakukan dengan cara memanipulasi obyek secara aktif. Contohnya, ketika akan
membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran, siswa dapat belajar
dengan menggunakan batu, kelereng, buah, lidi, atau dapat juga memanfaatkan
beberapa model atau alat peraga lainnya. Ketika belajar penjumlahan dua
bilangan bulat, para siswa dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan
menggunakan beberapa benda nyata sebagai “jembatan” atau dengan menggunakan obyek langsung.
2) .Tahap Ikonik
Tahap ikonik, yaitu suatu tahap
pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan
(diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar, atau
diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang
terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Bahasa menjadi lebih
penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang mencapai masa transisi
dan menggunakan penyajian ikonik yang
didasarkan pada pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir
abstrak.
3) .Tahap Simbolik
Dalam
tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul
atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek
seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan
notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini,
pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract
symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan
orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya
huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun
lambang-lambang abstrak yang lain.
c. penerapan konsep balajar Konstruktivisme
Teori konstruktivis yang memerinci
berikut ini, banyak pendekatan konstruktivias yang merekomendasikan pada kita
(Ormrod, 2000): Lingkungan-lingkungan pembelajaran yang menantang dan rumit,
dan tugas-tugas yang autentik. Negosiasi sosial dan tangungjawab bersama
(shared responsibility) sebagai bagian dari
pembelajaran.Representasi-representasi materi pelajaran berganda. Pemahaman
bahwa pengetahuan dapat dibangun. Pembelajaran yang berpusat pada siswa. Selain
konstruktivisme, pem ... belajar dengan
tindakan (learning by doing), dan bahwa pembelajaran seharusnya menjadi
pengalaman seumur hidup yang berkelanjutan dimana “otak/pikiran yang aktif
dapat berorientasi dengan dunia terbika yang luasuntuk memecahkan
masalah-masalah nyata yang terus menerus muncul bersama dengan pengalaman
sebelumnya meski dalam bentuk yang berbeda.” (Reed & Johnson, 2000: 91).
Teori-teori konstruktivis mengenai
pembelajaran juga dipengaruhi oleh teori-teori pengembangannya Piaget (1952,
1959) ... konstruktivisme memiliki
definisi yang beragam, pandangan umumnya kebanyakan membantah bahwa pengetahuan
menetap hanya dalam diri pembelajar dan bahwa kita tidak dapat mengajar
representasi yang akurat mengenai “kebenaran”. Kita hanya dapat menegosiasikan
makna-makna bersama (shared meaning) dengan para siswa dan memberikan mereka
kesempatan untuk membangun pemahaman yang bermakna saat mereka terlibat dalam
aktivitas yang dilakukan dengan sengaja (Jacobsen, 2003a).
Meskipun pandangan radikal pembelajaran
konstruktivis mengutamakan dan menfasilitasi peran aktif siswa. Lingkungan
pembelajaran konstruktivis mengubah focus dari penyebaran informasi oleh guru,
yang mendorong peran pasif siswa, menuju otonomi dan refleksi siswa, yang
mendorong peran aktif siswa. Strategi - strategi pembelajaran aktif
menganjurkan aktivitas – aktivitas pembelajaran yang di dalamnya siswa
diberikan otonomi dan control yang luas untuk mengarahkan aktivitas-aktivtas
pembelajaran.
Meskipun konstruktivisme memiliki
definisi yang beragam, pandangan umumnya kebanyakan membantah bahwa pengetahuan
menetap hanya dalam diri pembelajar dan bahwa kita tidak dapat mengajar
representasi yang akurat mengenai kebenaran. Kita hanya dapat menegosiasikan
makna-makna bersama (shared meaning) dengan para siswa dan memberikan mereka
kesempatan untuk membangun pemahaman yang bermakna saat mereka terlibat dalam
aktivitas yang dilakukan dengan sengaja (Jacobsen, 2003a).Meskipun pandangan
radikal mengenai kontruktivisme ini begitu diapresiasi oleh para akademisi,
pandangan tersebut sering kali gagal menerapkan realitas praktis yang dihadapi
guru dalam ruang kelas saat ini.
Meskipun banyak bukti
mengindikasikan bahwa para pembelajar sesunguhnya membangun pemahaman, tidak
semua bentuk pemahaman valid seluruhnya, dan ada sebuah realitas yang bebas dari
pemahaman individu (Eggen amp Kauchauk, 2007). Jika hal ini tidak benar, para
guru akan memiliki peran kecil dalam pendidikan, dan akibatnya, konstruktivisme
akan muncul begitu saja. Tentu saja, kondisi ini tidak sesuai dengan kenyataan
bahwa para guru saat ini makin dibebani oleh tangung jawab untuk menfasilitasi
perolehan pengetahuan kognitif konkret
yang diukur berdasarkan penilaian yang terstandarisasi dan berpatokan
tinggi.Lingkungan pembelajaran konstruktivis mengutamakan dan menfasilitasi
peran aktif siswa. Lingkungan pembelajaran konstruktivis mengubah fokus dari
penyebaran informasi oleh guru, yang mendorong peran pasif siswa, menuju
otonomi dan refleksi siswa, yang mendorong peran aktif siswa.
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Behaviorisme
merupakan suatu pandangan teoritis yang beranggapan bahwa pokok persoalan
psikologi adalah pada tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi – konsepsi
mengenai kesadaran atau mentalitas. Belajar konstruktivisme adalah bahwa belajar merupakan proses
penemuan (discovery) dan transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada
diri seseorang. Menurut cara pandang teori konstruksivisme belajar adalah
proses untuk membanguin pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan.
Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangu atas
dasar realitas yang ada di dalam masyarakat.
1.2. Saran
Tidak hanya tingkat kedalaman konsep yang
diberikan pada siswa tetapi harus disesuaikan dengan tingkat kemampuannya, cara
penyampaian materi pun demikian pula. Guru harus mengetahui tingkat
perkembangan mental siswa dan bagaimana pengajaran yang harus dilakukan sesuai
dengan tahap-tahap.
Diharapkan guru yang
membaca makalah ini dapat menerapkan konsep belajar behaviorisme,
kognitivisme, konstruktivisme dalam pengajaran matematika di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Andito
(ed.), Belaja Teori Behavioristik , (Bandung : Pustaka Hidayah, 1998),
hlm. 259.
Burhanuddin
Daja dan Herman Leonard Beck (red.), Perbandingan Teori Pembelajaran di Indonesia,
(Jakarta : INIS, 1992).
Michael
H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Tokoh Teori-Teori Belajar ,
terj. Mahbub Djunaedi (Jakarta : Pustaka Jaya, 1990), cet. XII.
Stokhof,
W.A.L. (red.), Ilmu Perbandingan Teori Pembelajaran
di Indonesia (Beberapa Permasalahan), ( Jakarta : INIS, 1990), jilid
VII.
Sumarthana, Th. dkk. (ed.),
Dialog:
Kritik dan Identitas para ahli teori pembelajaran.
Djiwandon, Sri Esti W. 2002. Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta:
Grasindo.
Eka P., Novita. 2006. Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Tentang
Operasi Hitung Bilangan Bulat Menggunakan Teori Bruner. Semarang : UNNES.
Pitadjeng.2006.Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan.Jakarta : Depdiknas.
Sugihartono, dkk..2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY
Press.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan
FIP-UPI. 2007. ILMU DAN APLIKASI
PENDIDIKAN Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu. Jakarta : Grasindo.
Tim Penyusun. 2007. Model Silabus Tematik Sekolah Dasar Kelas 3.
Jakarta: Grasindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar